Bagaimana perolehan nilai TKA siswa kelas IX tahun 2025-2026 lalu? Ah, ya. Semua siswa membeku. Melihat angka itu, mereka terpaku. Ada yang terharu. Mereka merasa bahwa belajar keras yang telah dilalui memberikan hasil semanis sari tebu. Sebaliknya, ada pula yang merasa malu. Sebagian dari mereka enggan memperjuangkan diri sehingga nilai TKA membuat pilu.
Berkaca pada fakta tersebut, sebagai fasilitator dan pendamping siswa, guru sangat perlu memperdalam wawasan, khususnya tentang soal-soal TKA ini. Seluk-beluk tentang penyusunan sekaligus cara mengerjakan soal sangat penting untuk dipahami. Ini merupakan modal dasar bagi para guru untuk mengajarkan cara mengerjakan soal-soal dengan trik-trik jitu yang sangat berarti.

TKA adalah singkatan dari tes kompetensi akademik. Tes ini diikuti oleh siswa-siswa pada akhir masa belajar di tingkat pendidikan dasar hingga menengah. Dalam TKA, disajikan soal-soal yang relatif pelik. Siswa harus mengerjakan dengan tenang dan menghindarkan diri dari rasa panik. Soal-soal yang disuguhkan merupakan integrasi antara ilmu pengetahuan literasi dan numerasi secara analitik numerik.

Menindaklanjuti hal ini, diundanglah dua tamu. Masing-masing adalah dua persona bermutu. Mereka adalah pak Sudar, S.Pd., M.Pd. dan pak Eko Sudinuryanto, S.Pd., M.Pd. Bagi SMP Negeri 1 Mranggen, keduanya adalah rekan yang sangat tidak asing. Mereka berdua adalah kepala di instansi masing-masing. Selain itu, mereka sudah lama menjadi tutor dalam berbagai kegiatan pelatihan penting.

Kegiatan peningkatan kompetensi guru di lingkungan SMP Negeri 1 Mranggen ini dikemas dalam bentuk IHT. Dalam tiga tahap In House Training ini, dipaparkan materi tentang TKA. Oleh pak Sudar, dijabarkan stategi meningkatkan hasil TKA siswa. Pada sesi selanjutnya, dibedah rapor mutu pendidikan yang merupakan cermin kondisi instansi. Bersama ibu Titis Perwitasari, kajian tentang rapor mutu ini dilakukan agar keadaan riil dapat diketahui. Dengan demikian, dapat dilakukan tindak lanjut sebagai wujud perbaikan dan peningkatan prestasi.
Berikutnya, pada sesi terakhir, materi tentang penggunaan LMS berbasis internet disajikan. LMS atau Learning Management System adalah platform perangkat lunak yang berguna dalam penyusunan perangkat pembelajaran. LMS ini dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan antusiasme sekaligus capaian pembelajaran.

Oleh tim kurikulum SMP Negeri 1 Mranggen, kegiatan IHT yang dilaksanakan pada 28 September, 5 dan 6 Oktober 2026 ini digawangi. Bertempat di ruang multimedia, kegiatan ini diselenggarakan khusus untuk kalangan sendiri.
Pada akhirnya, nilai TKA adalah cermin diri. Tekun atau malas belajar dapat dengan jelas terlihat dari nilai TKA yang didapati. Kerja keras ataupun keengganan belajar menjadi faktor penentu yang tak dapat dibeli. Adapun guru adalah pengajar yang bertugas mendampingi serta memfasilitasi sedangkan tokoh utamanya adalah siswa itu sendiri.

Salah satu hal penting yang sangat dibutuhkan adalah motivasi. Para siswa perlu memahami bahwa semua perilaku yang diperbuat akan melahirkan efek bagi nasib atau masa depan diri. Nilai TKA akan menjadi bekal untuk menyusuri arah dan melangkahkan kaki. Tempat belajar tahap berikutnya adalah jalan yang harus ditapaki. Oleh karena itu, dukungan, dorongan dan motivasi perlu diberikan agar siswa-siswa memiliki harapan masa depan yang lebih pasti.
Salam semangat dari Spensa. (AA)

Beri Komentar