Mengaplikasikan sila-sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari? Bisakah? Sulit? Rumit?
Pertanyaan semacam ini acap kali muncul dalam benak kita saat melafalkan sila-sila Pancasila dalam tiap upacara. Setiap sila yang diucapkan bersama-sama seolah-olah hanyalah wacana yang tinggi dan muluk-muluk adanya. Mengamalkannya dalam kegiatan sehari-hari seakan tidak mudah rasanya. Penghayatan dan pengkajian yang mendalam harus dilakukan sebelum melaksanakan dalam kehidupan nyata.


Ternyata tidak demikian faktanya. Pancasila sesungguhnya sangat dekat dengan diri kita. Mudah dan menyatu bagaikan nyawa. Setiap nafas dan aktivitas kita tidak pernah lepas darinya. Bagaimana bisa? Ini dia paparannya.

Oleh pembina upacara, penjelasan tentang pengamalan Pancasila dijabarkan dalam upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Ibu Tri Mulatsih, S.Pd. memberikan wejangannya kepada semua peserta upacara. Disampaikan oleh beliau bahwa sila-sila dalam Pancasila dapat dengan mudah diterapkan dalam kegiatan sehari-hari seperti beribadah sesuai agama masing-masing, menghormati teman yang berbeda keyakinan, saling membantu sesama teman, kompak dalam bekerjasama saat belajar kelompok atau piket kelas, bermusyawarah untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi bersama, menghindari perkelahian atau perundungan (bullying) serta masih banyak lagi lainnya.

“Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan tetapi juga untuk dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari”, demikian diucapkan oleh ibu Tri Mulatsih.
Upacara yang dilaksanakan pada pada hari ini, Kamis, 1 Oktober 2026 merupakan kegiatan nasional sesuai instruksi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Demak. Aktivitas ini diikuti oleh lebih dari seribu warga SMP Negeri 1 Mranggen dengan formasi, guru, staff, karyawan serta siswa. Bertempat di lapangan voli, kegiatan ini dilaksanakan dengan hikmat dan penuh sahaja.

Bukan tanpa sebab upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini diselenggarakan. Sejarah berisi peristiwa masa lampau yang akan menumbangkan ideologi Pancasila perlu dikisahkan. Kepada siswa-siswa, kisah nyata ini wajib diperkenalkan. Mereka mesti memahami apa dan bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Tujuannya adalah agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Di samping itu, memperingati Hari Kesaktian Pancasila dapat menumbuhkembangkan rasa cinta kepada NKRI tercinta. Kita mengenalnya dengan istilah nasionalisme atau cinta bangsa. Ini sangat penting untuk menangkal pengaruh negatif globalisasi yang menyerang mental generasi muda.

Sebagaimana diketahui bahwa saat ini media sosial sudah menggila. Berbagai postingan tidak ada filternya. Konten positif dan negatif hampir tidak dapat dipisahkan alias serupa tapi tak sama. Sama-sama membanjiri dunia. Dengan memiliki rasa cinta kepada bangsa dan mengamalkan sila-sila Pancasila, generasi muda Indonesia akan dapat menyaring suguhan media sosial yang dihadapinya.
Berbagai pesan-pesan pembinaan selalu disampaikan dalam berbagai upacara. Sama dengan upacara-upacara yang diselenggarakan sebelumnya, pesan-pesan kebaikan selalu diberikan kepada para siswa. Menumbuhkan karakter positif siswa adalah tujuan utamanya. Beriman, bertakwa, berbudi pekerti luhur dan berwawasan lingkungan adalah visinya. Kepada siswa-siswa, digantungkan jutaaan asa. semoga pada mendatang, mereka menjadi generasi dengan karakter mulia.
Salam cinta bangsa. Salam jaya Spensa. (AA)

Beri Komentar